June 16, 2020

Rahasia Ken Arok di Prasasti Mula Malurung

Agus Wibowo

3 dari 12 lempeng
Prasasti Mula Malurung
Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh dengan tertuduh Tunggul Ametung, Ken Arok diagkat menjadi Adipati Tumapel. Peristiwa ini oleh Serat Pararaton dikisahkan bahwa Ken Arok yang melakukan pembunuhan. Dia lolos sebagai tertuduh karena keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung diketahui oleh banyak orang di Tumapel sebagai milik Kebo Ijo. Atas jasanya memecahkan kasus pembunuhan Tunggul Ametung, Ken Arok pun mendapatkan kepercayaan dari Raja Kediri, Sri Kerta Jaya. Setelah menjadi Adipati, Ken Arok menikah Ken Dedes, janda Tunggul Ametung. Peristiwa ini terjadi di tahun 1203.

June 15, 2020

Tua Keris Kembar Penarik Harta Karun

Alkisah, di lereng Gunung Ungaran, ada sebuah desa yang tenteram dan damai. Masyarakatnya makmur hidup dari pertanian yang subur di lereng gunung dan mudah menjual produk pertanian ke kota yang mudah dijangkau. Udara masih segar, air sungai mengalir jernih dan sumur pun mengeluarkan air jernih-segar di kedalaman 3- 5 meter.
Keris di Museum Nasional
Suatu hari datang orang yang tidak dikenal berpakaian serba putih, memakai ikat kepala putih merapikan rambutnya yang putih. Kedatangan pria tua serba putih ini segera menarik perhatian karena penampilannya yang tidak biasa dan belum ada yang mengenalnya. Tukang tambal ban yang ada di pertigaan jalan masuk desa menyapa dan bertanya. “Selamat siang bapak? Bapak mencari siapa dan bapak ini dari mana?” tanya tukang tambal ban.

June 12, 2020

Kepahlawanan Ranggalawe Sebagai Hari Jadi Kabupaten Tuban

Agus Wibowo

Tuban sudah dikenal sebagai daerah pelabuhan sejak masa Kerajaan Singasari, tapi Pemerintah Kabupaten Tuban menetapkan tanggal 12 Agustus 1293 sebagai hari jadi Kabupaten Tuban. Mengapa tanggal tersebut yang dipilih?

Dalam sejarah kejatuhan Kerajaan Singasari di tahun 1292 sampai berdirinya Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293, Ranggalawe menunjukkan pengabdian dan kesetiaannya kepada Raden Wijaya. Ketika Raden Wijaya diperintah oleh Kertanegara untuk menumpas kerusuhan di utara Singasari Ranggalawe yang mengawal. Ketika Raden Wijaya berusaha membebaskan putri-putri Kertanegara yang ditawan oleh pasukan Jayakatwang, Ranggalawe juga yang ikut mengamuk. Ranggalawe juga yang mengusulkan Raden Wijaya pergi ke Sumenep untuk meminta perlindungan pada ayahnya, Aria Wiraraja.

June 10, 2020

Ken Arok, Pendiri Singasari di Bumi Jenggala

Agus Wibowo
  
Candi Singasari
Ken Arok dikisahkan oleh Kitab Pararaton dengan sangat detil sebagai anak berandalan, penjudi dan pencuri di masa kecil. Ken Arok diceritakan sebagai anak dari seorang perempuan desa yang membuang bayinya di sebuah pemakaman. Ken Arok diangkat anak oleh seorang pencuri, dan dari sini dia belajar menjadi pencuri. Karena kenakalannya, Ken Arok diusir bapak angkatnya yang pencuri, kemudian diangkat anak oleh seorang penjudi dari Karuman Blitar bernama Bonggo Samparan, karena dianggap membawa keberuntungan. Tidak betah menjadi anak angkat Bonggo Samparan, Ken Arok pergi dan berteman dengan gadis anak kepala desa, mulai mengenal baca tulis, tapi kenakalannya makin berkembang dengan menjadi pasangan perampok.

June 06, 2020

Petirtaan Jolotundo dan Air Suci Amerta

Agus Wibowo

Petirtaan Jolotundo terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini terletak di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian 525 mdpl, yang secara geografis berada dititik koordinat  7046’39” LS dan 112040’57” BT. Petirtaan ini dipugar pada tahun anggaran 1991/1992 sampai dengan 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
Penelitian Candi Jolotundo telah dilakukan oleh beberapa ahli, antara lain Wardenaar pada tahun 1815 dengan melakukan penggalian dan menemukan peripih batu di tengah-tengah kolam yang berisi abu dan potongan emas dengan tulisan yang menyebut Dewa Isana dan Agni. Pada tahun 1838, Domais menemukan arca naga dan garuda di sudut kolam induk. Pada tahun 1840, beberapa ahli seperti Sieburgh, Yunhung, van Hoevel dan Brumund datang dan mendeskripsikan temuan yang ada. Pada tahun 1937, Stutterheim menemukan dan meneliti sebuah pancuran batu yang berbentuk silinder yang dianggap sebagai bagian puncak teras Jolotundo. Selain itu, Bosch meneliti arsitektur, seni hias dan relief Jolotundo. Pada tahun 1987, Soekartiningsih, seorang mahasiswi Arkeologi UGM membahas tentang pendiri dan fungsi petirtaan Jolotundo dalam skripsinya. Berdasarkan hasil penelitiannya, dapat disusun aspek arkeologis dan kesejarahan, serta fungsi Jolotundo.

May 30, 2020

The Curse of "Sangguran Stone" Stranded in Scotland

Agus Wibowo

Sangguran Inscription is an important document that became evidence of Indonesian history, especially about Medang Kingdom. This inscription was brought by Stamford Raffles in the early 19th century, given to the Governor General of the British Empire in India, Lord Minto, and taken to Scotland.

Sangguran Stone on the yard of Lord Minto's house
Before Mpu Sindok led the exodus of the Royal Family of Medang from Central Java to East Java, The Medang Royal military had expanded to the eastern part of Java Island several years earlier. Their tracks were found in Tulungagung until Malang and conquered the Kingdom of Kanjuruhan. Sangguran Ston issued by order Mpu Sindok who became Prime Minister in Medang in the time of King Dyah Wawa. This expansion continued the efforts of King Dyah Balitung in 905, recorded in the Kubu-Kubu Stone, which is part of the Penampihan Temple in Tulungagung.

May 20, 2020

'Kutukan' Kekuasaan yang Runtuh di Puncak Kejayaan

Agus Wibowo 

Ritual Jamas Keris/Puspito
Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang dibangkitkan kembali oleh Mpu Sindok di Jawa Timur mencapai puncak kejayaan pada raja keempat, Darmawangsa Teguh. Bukan hanya bisa bertahan dari serangan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Medang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur, dan bisa membangun koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali melalui perkawinan Raja Udayana dengan Mahendrata, adik Darmawangsa. Dengan kekuatan koalisi tersebut, Darmawangsa bisa mengusir Wangsa Syailendra kembali ke Kerajaan Sriwijaya, bahkan bisa melakukan serangan melalui laut ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.

April 18, 2020

Misteri Majapahit dibalik "Sirna Ilang Kertaning Bhumi 1400/1478"

Agus Wibowo

Sirna Ilang Kertaning Bhumi menjadi pernyataan yang iconic dan dipercaya sebagai tahun berakhirnya Kerajaan Mahapahit yang dikenal sebagai kerajaan yang berhasil menyatukan kepulauan nusantara. Pernyataan di dalam Babad Tanah Jawi yang melambangkan tahun 1400 saka tersebut juga diartikan sebagai “hancur lebur ditelan bumi”.Sebenarnya apakah yang terjadi?

Dalam periode 1468 sampai 1478 Kerajaan Majapahit mempunyai dua raja yang saling berperang. Di istana Wilwatikta di Trowulan Bre Kertabhumi mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit setelah berhasil menggulingkan pamannya, dari tahta dan melarikan diri ke Kediri. Singhawikramawardhana yang berhasil lolos dari penyerangan, mendirikan istana di Daha Kediri dan tetap menyatakan sebagai Raja Majapahit.